
Pendahuluan
Stroke atau dikenal sebagai cerebrovasculer accident adalah penyakit yang menjadi penyebabkematian ke 3 setelah penyakit jantung dan keganasan, dan menjadi penyebab kecacatan yang tertinggi pada pasien yang survive, dan memberikan banyak masalah ekonomimaupun social, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Cara yang terbaik adalah dengan mencegah terjadinya stroke, baik yang pertama maupun serangan ulang dengan cara mengenal faktor faktor resikonya terutama faktor faktor resiko yang dapat di ubah, seperti adanya hipertensi, diabetes mellitus,dislipidemia,penyakit jantung dan sebagainya, dan yang tak kalah pentingnya dan belum banyak di ketahui oleh awan adalah yang di sebut OSA/ Obstructive Sleep Apneu.
Apakah yang dimaksud dengan OSA ?
American Academy of Sleep Medicine (AASM), 2005, membagi gangguan tidur menjadi beberapa kategory yakni :
- Insomnia
- Hypersomnia
- Parasomnia
- Sleep related movement disorder
- Sleep related breathing disorder
- Circadian Rhytm sleep disorder
- Isolated syndrome
OSA termasuk suatu gangguan tidur yang di awali suatu nafas mendengkur atau megap
megap yang di ikuti dengan suatu episode berhenti nafas/apneu atau berhenti nafas sebagian/hipopneu selama periodemlebih dari 10 detik, di ikuti gerakkan otot dada dan perut sebagai usaha memasukkan udara,dan hal ini menyebabkan menurunnya kadar oksigen darh/saturasi oksigen lebih dari 3%.Seseorang dikatakan menderita OSA jika di dapatkan AHI> 5 per jam (Apneu Hipopneu Index).
Sedangkan mengenai derajat OSA di bagai sebagai berikut :
. Ringan/mild jika AHI 5-15/jam
. Sedang/moderate jika AHI 15-30/jam
. Berat/severe jika AHI >30/jam
OSA dikenal dengan tanda-tanda ngorok keras yang mengganggu orang lain disertai berhentinya nafas yang dapat disaksikan teman tidurnya dan menderita ngantuk di siang hari/excesive daily sleepness,pusing di pagi hari dan sebagainya.Diagnosa pasti OSA dapat di ketahui dengan pemeriksaan Overnight Polysomnography (PSG), dimana seseorang diamaaati tidurnya selama semalam, untuk di ketahui fase-fase tidurnya,frequensi denyut jantungnya,gerakan gerakan abnormalitas kaki, kadar oksigen darh/saturasi oksigen,pola nafas,gerakan otot dada maupun perut,gerakkan bola matas, dan sebagainya.

Hubungan Antara OSA dan Stroke
OSA di ketahui sebagai salah satu faktor resiko stroke setelah melalui banyak penelitian .Banyak hal yang terjadai pada orang yang mengalami OSA antara lain adalah :
1. Kenaikan aktifitas sistem saraf simpatis yang berkaitan dengan hypertensi
dan diabetes Mellitus karena resistensi insulin.
2. Terjadinya gangguan fungsi endothel.
3. Kenaikkan kadar fibrinogen.
4. Kenaikkan aktifitas sel keping darah/thrombosyt
5. Kenaikkan sistema penjendalan.
6. Penurunan cerebral blood flow/aliran darah ke otak
7. Penebalan dinding pembuluh darah karotis.
Dalam masyarakt umum ditemukan frequensi OSA adala 2% pada wanita dan 4% pada laki-laki,namun pada penelitian Aliye Tonin(2008) ditemukan OSA pada 73,7% pada pasien stroke,sedangkan penelitian Hemran (2007) melaporkan ditemukan 58% pasien stroke pertama menderita sleep disordered breathing, 9,7% di antaranya central periodic breathing sedang sisanya adalah OSA.
Hubungan OSA dan Tekanan Darah Tinggi
Kenaikan tekanan darah tinggi terjadi pada pasien OSA pada fase setelah apneu ( berhenti nafas pada saat mendengkur), hal ini di ketahui dengan pemeriksaan PSG ( Lavie et al 2000). Seperti di ketahui selama periode apneu kadar oksigen darah turun dan kadar carbondioksida meningkat akan menaikkan aktifitas saraf simpatis dengan akibat merangsang terjadinya penyempitan pembuluh darah hingga terjadi kenaikkan tekanan darah.
Hubungan OSA dan Cerebral Blood Flow Velocity
Pada penelitian dengan pemeriksaan doppler maka di temukan selama periode apneu maka terjadi penurunan blod flow ke otak, terutama pada akhir apneu yang di sertai kenaikkan tensi.
Hubungan OSA dan Artheriosclerois
Ditemukan pula bahwa OSA berkaitan dengan artheriosclerosis yang berkontribusi terjadinya stroke, OSA menyebabkan kenaikkan kadar fibrinogen darah, kenaikkan C reaktif protein, interleukin 6 dan plasminogen activator ninhibitor (yokoe,2003),selain itu juga terjadi kenaikan matrix metalloproteinase 9 dan vasculair angiogenic cytokine hingga menimbulkan terjadinya artherosclerosis. Dengan demikian OSA juga mengaktifkan proses inflamasi multiplen yang dapat menaikkan aktivasi platelet dan menjadi juga penyebab Silent Brain Infarction/SBI yang di kenal sebagai little stroke,yang di kemudian hari akan menyebabkan banyak masalah. Di kenal 2 jenis proteinyang berhubungan dengan proses kenaikkan aktivasi platelet/thrombosit yakni CD40 ligand (sCD40L) dan soluble P selectin (sP selectin). Keduanya merupakan 2 buah marker penting pada aktivasi platelet.
Hal lain yang tak kalah penting adalah bahwa selain OSA menjadi faktor resiko terjadinya stroke maka stroke yang mengenai daerah pusat pernafasan di daerah medulla/batang otak akan memicu terjadinya sleep disorder breathing (Askenasy,1988). Hal yang sama juga terjadi jika pasien mengalami kesulitan menelan/dysphagy atau kesulitan berbicara/dysrthri.Namun jika stroke mengenai kedua sisi otak/bilateral maka yang terjadi adalah nafas cheyne stoke ( nafas satu satu).
Iranzo (2002) menemukan 62 % pasien stroke menderita gangguan pernafasan/OSA dan hal ini ternyata menghambat penyembuhan.
Di samping itu pasie paska stroke yang menderita OSA umumnya mempunyai index Barthel yang rendah serta menurunkan motivasi dan kemampuan kognitif, dan memicu terjadinya stroke ayng berulang. Sedangkan penelitian Carei et al,2008 menemukan bahwa OSA menaikkan angka kematian stroke akut.
Hal tersebut di atas sangat berkurang dengan bantuan CPAP / Continous Positif Airway Pressure.
Pengobatan
Setelah diagnosa di tegakkan maka perlu di pikirkan penyebabnya. Selain koreksi berat badan, pemeriksaan THT perlu dilaksanakan dengan kemungkinan koreksi kelainan yang ada,juga pemeriksaan seorang ahli gigi atau bedah mulut untuk mengkoreksi kelainan yang ada.
Terapi CPAP sangat di anjurkan jika koreksi tak dapat di laksanakan.
Penutup
Telah diuraikan hubungan antara OSA dan stroke, baik OSA sebagai risk faktor terjadinya stroke maupun OSA sebagai akibat adanya stroke.OSA menghambat penyembuhan dan juga menjadi faktor resiko penyebab kematian pasien stroke.
Sumber ; Dr. L.Laksmiasanti SP.S (K) dari Seminar ” Hubungan mendengkur dan Stroke”
Kepustakaan,
Askenassy JJ,Goldhamer Sleep apneu as a feature of bulbair stroke 1988:19:637-639
Carin Sahlin, OSA is a risk factor for dead in patient with stroke, Arch Intern med2008:168:298-301
Herman DM et al, central periodic breathing during sleep in acute ischaemic stroke, Stroke 2007:38:1082-1084
Iranzoet al, Prevalence and clinical omportance of sleep apneu in the first night after cerebral infarction.Neurologi 2002:58:911-916
Lavie et al, OSA as a risk factor for hypertension:population study.BMJ 2000:320:479-482
Yokoe et al, Elevated levels of CRP and interleukin 6 in patients with OSA are ecreased by nasal CPAP,circulation2003:107:1129-1134






0 Comment:
Post a Comment